Mengenang 200 tahun Charles Darwin, begitulah judul yang tertera di halaman depan kolom Iptek, surat kabar Kompas hari ini, 11 Februari 2009. Aku tertarik sekali untuk menyimak kata-kata yang di pilih oleh sang penulis untuk menggambarkan kekagumannya terhadap tokoh yang satu ini.

“Darwin mendapatkan pencerahan besar setelah mengunjungi kepulauan Galapagos, sekitar 800 kilometer sebelah barat Amerika Selatan.”
Pencerahan besar ?? ah, untuk penganut teori evolusi mungkin istilah itu tepat, karena dari sinilah teori evolusi bermula. Masih ingatkan, ketika sekolah, betapa gencarnya teori evolusi di ajarkan. Teori ini di ajarkan seolah-olah sebagai suatu kebenaran mutlak. Mungkin dulu menganggap bahwa itu hanyalah sebuah pelajaran biologi dan tidak lebih dari itu.
Dan ternyata …. selalu ada udang di balik batu. Inti teori evolusi itu sebenarnya satu : Tidak ada campur tangan Tuhan dalam penciptaan mahluk hidup !! Ya, iyalah, teori evolusi kan menyatakan bahwa seluruh mahluk hidup berawal dari mahluk bersel satu yang kemudian berkembang, ada yang jadi burung, ikan, kera dan juga manusia, seperti aku dan kamu *hohohoho….*. Jika memang begitu, lalu dimana posisi Tuhan. Tidak ada !! Jika kamu percaya dengan teori evolusi ini, maka kamu harus percaya bahwa segala sesuatu yang ada saat ini, entah itu mahluk hidup apapun, tercipta dengan sendirinya melalui proses jangka panjang yang namanya, yaitu tadi …EVOLUSI. Oiya, kamu pun harus ‘rela’ bernenek moyang kera … kamu mau ??? sudahlah, mending simak kata-kata berikutnya dari sang penulis.

“Kini, penyelidik modern yang dilengkapi dengan kamera canggih, computer, dan alat pemeriksa DNA menghasilkan temuan yang tetap mendukung karya Darwin.”
Nah, ini dia ….. yang aku tahu justru keadaan sebaliknya. Seiring dengan kemajuan teknologi, teori evolusi malahan semakin babak belur. Bahkan untuk mempertahankan teori ini, ada seorang professor Jerman yang tega memanipulasi data dan membohongi publik (klik disini jika ingin baca lebih lengkap). Belum lagi sekarang muncul penentang teori evolusi paling gencar yaitu Harun Yahya. Uraiannya yang logis disertai dengan bukti- bukti ilmiah semakin membenamkan teori evolusi. Dari mana ya, sang penulis bisa menyimpulkan bahwa penemuan-penemuan terbaru tetap mendukung teori evolusi ?
Sekarang mari jalan-jalan ke paragraf terakhir Mengenang 200 tahun Charles Darwin dari sang penulis. Aku tampilkan satu paragraf penuh ya..
“Teori Darwin dewasa ini menjadi satu pilar dasar sains modern, berjajar disamping relativitas dan mekanika kuantum. Seperti halnya Copernicus yang menggeser Bumi dari pusat semesta, semesta Darwin menggeser manusia sebagai episenter jagat alam. Seleksi alam bertanggung jawab atas lahirnya apa yang disebut Ayala “desain tanpa desainer”, istilah yang mematahkan upaya keras yang kini masih dilakukan oleh sejumlah teolog untuk menjatuhkan teori evolusi.”
Tuh kan, inti tulisan itu sebenarnya ada di paragraf ini. Penulis terlihat sekali ingin menunjukkan ‘kemenangan’ teori evolusi atas para penentangnya. ‘Desain tanpa desainer’…. keren juga sih ungkapannya. Padahal kenyataan sekarang adalah keadaan sebaliknya dimana para evolusionis kalang-kabut mempertahankan teorinya. Dan itu adalah fakta. Dengan berbagai macam dalih, teori evolusi terus dipaksakan. Sayang sekali, sang penulis Mengenang 200 tahun Charles Darwin, tidak menyinggung sama sekali nama Harun Yahya yang di Eropa saja, sempat menggemparkan dengan buku Atlas Penciptaan tulisannya. Bukan hanya itu, peristiwa-peristiwa kontemporer dimana para ilmuwan evolusionis melakukan kebohongan dan penipuan juga tidak muncul di tulisan ini. *ya iyalah…*
Terus, bagaimanakah kelanjutan teori evolusi ? Aku rasa akan semakin seru dan menarik, karena walau bagaimanapun, teori evolusi ini sejalan dengan paham yang sudah cukup lama beredar di muka bumi, yaitu Materialisme….
Berbagi
Komentar Terakhir