Ketika menonton film, entah itu drama ataupun film laga, hati serasa tidak puas atau kecewa, ketika bintang utamanya atau sang jagoan bernasib naas alias tidak bahagia atau lebih parahnya lagi mati di akhir cerita. Mayoritas raut muka para penonton akan berkerut, tidak percaya dan ingin menggugat. Tetapi apa daya, karena walau bagaimanapun penonton tetaplah penonton yang tidak punya wewenang sedikitpun dalam menentukan cerita. Itu adalah respon terhadap film.
Di kehidupan nyata sebenarnya tidak jauh berbeda. Setiap orang menginginkan akhir yang baik, indah, bahagia dan segala macam kata yang bisa mewakili arti ‘bahagia’. Tidak mengapa jika awalnya penuh kesusahan, penderitaan dan segala macam ketidakbahagiaan asalkan ujungnya atau akhir cerita ditutup dengan kebahagiaan. Syukur-syukur jika awalnya bahagia dan akhirnya juga bahagia. Yah, bahagia sepanjang waktu. Tapi itu tidak mungkin, selalu ada saja kesedihan yang menyelinap. Bahkan kesusahanpun selalu datang tanpa diundang dan pergi setelah diusir. Memang seperti itu. Tidak ada yang bisa merasakan kebahagiaan tanpa tahu arti ketidakbahagiaan. Justru banyak orang yang bisa lebih merasakan arti sesungguhnya dari kebahagiaan setelah melewati masa-masa yang tidak membahagiakan.
Setiap orang ingin bahagia dan setiap orang mengartikan sendiri kebahagiaan itu. Satu peristiwa yang sama akan memiliki arti yang berbeda. Ketika aku mendapatkan hadiah kamera digital (misalkan), aku mungkin akan bahagia setengah gila, karena aku tidak punya kamera digital. Tetapi bagi orang yang memiliki 10 kamera digital di lemarinya, mungkin akan biasa-biasa saja atau bahkan kecewa dengan sangat, karena yang diharapkannya adalah sebuah mobil ferari yang belum ada di garasinya !!
Sebenarnya apa sih resep kebahagiaan ? Ah, setiap orang aku rasa punya resep yang khas di dapur hatinya. Cuma sayang, karena jarang memasak jadi lupa akan resep tersebut. Karena sibuk berbelanja di luar sehingga lupa dengan apa yang telah di miliki di dalam. Karena dan karena … banyak sekali alasannya.
Dimana sih letak kebahagiaan itu ? Kalau menurutku sendiri, kebahagiaan itu terletak pada kebahagiaan orang lain. Aku bahagia ketika orang yang aku sayangi dan aku cintai berbahagia. Apa maksudnya aku berbahagia jika orang yang kusayangi dan kucintai tidak bahagia. Tidak ada maknanya, tidak ada rasanya, hambar, sayur tanpa garam kalau kata pepatah. Tentu ada yang salah jika seperti itu.
Seorang anak belajar dengan sungguh-sungguh setiap hari agar bisa menjadi juara di kelasnya. Diapun meraihnya. Orantuanya di undang ke sekolah. Orangtuanya tersenyum, jelas senyum bahagia berbalut bangga melihat anaknya naik podium. Senyum orangtua berarti kebahagiaan buat dirinya. Kebahagiaan orangtua adalah kebahagiaannya… Aku yakin, Itu akan berkesan sepanjang sisa umurnya.
Seorang pemuda miskin bekerja keras setiap hari untuk mencari bekal. Impiannya satu. Dia ingin pergi ke Mekkah (naik haji) bersama kedua orangtuanya. Bekalnya terkumpul. Diapun menyampaikan impian itu kepada orangtuanya. Air mata menetes di wajah mereka. Air mata bahagia….. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaannya.
Oh indahnya hidup ini….
Dan diantara mereka ada orang yang berdoa : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah : 201)
Komentar Terakhir